Istiqomah

 

Muamalah dan ibadah menjadi hal yang penting

Muamalah dengan berbuat baik kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Muamalah yang baik akan membangun komunikasi yang baik dengan sesama manusia. Manusia yang dipandang baik di mata manusia berarti penerapan muamalahnya baik. 

Muamalah berarti hubungan dengan sesama manusia, kalau hubungan manusia dengan tuhan disebut ibadah. 

Ibadah sebagai sarana komunikasi dengan sang pencipta. Ibadah ada yang wajib dan sunah. 

Semua orang yang percaya tuhan pasti melaksanakan ibadah. Ibadah ini selalu menjadi sesuatu yang menarik untuk dibahas. 

"Ibadah nek pas kepepet tok"

"Do'ane nek pas lagi susah tok"

"Ngajine pas gelisah tok"

Ibadah pada saat susah aja tuhan memberikan jalan, apalagi yang selalu berdo'a dalam keadaan susah dan senang. 

Itulah sejatinya ibadah biasa kita kenal dengan ibadah yang istiqomah

Istiqomah dalam ibadah dapat menjadi kekuatan tersendiri bagi seseorang bahkan menjadi pilihan "tirakat" 

Guru ku bapak Muhtar, bapak Nur Habib Musthofa, bapak Asngadi, dan guru ku lainnya pernah berkata "orang suskses itu pasti punya pegangan"

Kata pegangan ini memiliki makna tersirat, pegangan yang dimaksud adalah sebuah ibadah yang istiqomah dijalankan dengan niat yang baik. 

Apabila tidak sukses di dunia bisa menjadi kekuatan untuk sukses di akhirat. 

Rasanya hingga saat ini baik sukses di dunia maupun sukses di akhirat masih menjadi incaran semua orang yang percaya kehidupan setelah mati. 

Ibadah istiqomah sebagai salah satu kekuatan untuk menuntun menuju sukses di akhirat. 

Sekecil apapun kebiasaan mu apabila istiqomah dampaknya akan begitu terasa di hidupmu. 

Tapi perlu diketahui ibadahistiqomah itu sangat susah membutuhkan komitmen yang tinggi

Apabila ibadahku belum sebaik2nya ibadah sesuai dengan rukunnya setidaknya aku berusaha konsisten dengan ibadah yang ku jalani


Tulisan ini dibuat sebagai pengingat untuk diri sendiri

Surabaya, 14 Maret 2023


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita

Mahakarya Sungguh Mengena

Belajar Talasemia dari Cerita Lucia Priandarini