PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

 



Proses pembelajaran akan terus mengalami perubahan sesuai dengan perubahan zaman. Perubahan ini dilakukan demi mempersiapkan peserta didik menghadapi zamannya bukan zaman guru atau orang tuanya, maka dari itu dunia pendidikan harus selalu beriringan dengan segala jenis perubahan. Saat ini kita sering mendengar istilah kurikulum dengan paradigma baru atau kurikulum merdeka. Kurikulum merdeka merupakan kurikulum yang resmi diluncurkan pada Februari 2022 oleh Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Nadiem Makarim.

Kurikulum merdeka merupakan pengembangan dari kurikulum prototipe yang dibaut pada saat covid 19. Dari kurikulum prototipe timbul sebuah pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan peserta didik yang disebut pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan suatu bentuk usaha dalam serangkaian pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan peserta didik dari segi kesiapan belajar, profil belajar peserta didik, minat dan bakatnya (Tomlinson, 2001). Diferensiasi pembelajaran ini dapat dilakukan dengan tiga sudut pandang antara lain, diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.

Pemberlakuan pembelajaran diferensiasi dari segi konten dapat dilakukan dengan cara membedakan materi yang disampaiakan kepada peserta didik. Hal yang perlu dilakukan sebelum menerapkan diferensiasi konten ini ialah mengetahui tingkat pemahaman awal peserta didik. Kesiapan belajar (readiness) merupakan kapasitas dan kemampuan murid untuk mempelajari dan memahami materi baru. Dengan kesiapan belajar, guru berusaha mengajak murid untuk mengikuti proses pembelajaran yang keluar dari zona nyaman,tetapi dengan dukungan  lingkungan belajar yang benar dan fasilitas yang memadai agar murid dapat menguasai suatu materi baru (Fitra, 2022: 254).  Pemahaman awal peserta didik dapat di ukur dengan cara analisis diagnostik dengan pre-test. Ketika sudah mengetahui kesiapan peserta didik guru dapat memetakan materi apa yang mungkin perlu disampaikan.

Diferensiasi dari segi proses pembelajaran dapat dilakukan dengan pemilihan strategi pembelajaran. Diferensiasi ini akan mengiring pada tingkat pemahaman tertentu dalam sebuah materi pembelajaran. Hal-hal yang bisa dilakukan antara lain, kegiatan berjenjang, menyediakan pertanyaan pemandu sesuai dengan minat siswa, membuat kelompok berdasarkan minat, dan mengembangkan kegiatan yang bervariasi (Wasih, hayati, & Fatkhurrohmah., 2020). Hal ini diharapkan dapat memberikan kenyamanan kepada peserta didik selama proses pembelajaran.

Cara diferensiasi yang dapat dilakukan dengan cara diferensiasi produk. Diferensiasi produk dapat ditunjukkan dengan cara pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari berbagai sumber belajar. Diferensiasi produk juga dapat diartikan sebagai hasil yang telah dipelajari peserta didik (Wasih, hayati, & Fatkhurrohmah, 2020).  

Tiga jenis diferensiasi ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Peningkatan hasil pembelajaran setelah diberlakukan pembelajaran berdiferensiasi telah terbukti dari beberapa penelitian diantaranya, menurut Aprim dan Sari (2022) menyatakan bahwa dari tiga siklus pembelajaran dari siklus dua ke siklus tiga sudah nampak peningkatan hasil pembelajaran dibuktikan dengan tujuan pembelajaran yang sudah tercapai. Peningkatan kemampuan peserta didik ini tentu membutuhkan proses. Guru juga perlu memahami peseta didik secara menyeluruh sehingga dapat memilih cara yang terbaik.

 

Referensi

Aprim, D. & Sari, S. 2022. Analisis Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Pelajaran  Matematika SD . Cendikia : Media Jurnal Ilmiah Pendidikan. Vol.13(1), Hal. 95-101.  

Fitra, K.D. 2022. Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Perspektif Progresivisme pada Mata Pelajaran Ipa. Jurnal Filsafat Indonesia, Vol.5, No.3, Hal (250-258)

Tomlinson, C. A. 2001. How TO Differentiate instruction in mixed-ability classrooms. In Association for Supervision and Curriculum Development.

Wasih, W., Hayati, M. N., & Fatkhurrohmah, M. A. (2020). Pengaruh POE berbasis Blended Learning Terhadap High Order Thingking Skill (HOTS) Peserta Didik SMP. Jurnal Pendidikan MIPA Pancasakti, 4(1), 1-11. https://doi.org/10.24905/jpmp.v4i1.1516

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita

Mahakarya Sungguh Mengena

Belajar Talasemia dari Cerita Lucia Priandarini